Jika ada sumur diladang boleh kita menumpang mandi... pantun
ini terkadang didengar saat suatu acara hendak berakhir, pidato, ceramah maulid
ataukah acara – acara lainnya ...bila ada umur yang panjang boleh kita bertemu
lagi. Tapi makna sebenarnya pun bisa terjadi di kehidupan sehari – hari para
petani yang sedang menggarap ladangnya. Mereka akan mandi dikebun yang terdapat
sumur.
Namun sumur yang bagaimanakah ??, petani biasa mandi disitu.
Yaitu sumur yang berair jernih dan dinginnya begitu natural, seperti batu dan
tanah yang berpasir sebagai sumber mata airnya yang tidak pernah kering oleh
kemarau yang panjang sekalipun. Itulah mengapa saat kemarau datang maka para
petani tidak sekedar mandi tetapi manjadikan sumur sebagai pokok ketahanan
tumbuhan diladang – ladang mereka.
Air yang tetap jernih itu menyirami tanaman yang ada
disekitarnya. Meskipun tidak bisa digunakan dengan skala ladang besar tapi itu
cukup memenuhi kebutuhan. Tanaman sayur wortel, timun, kacang hijau, kacang
panjang, dan ada banyak lagi tanaman sayur semacamnya. Tanaman buah semangka,
kacang tanah, dan bahkan petani kakao pun menggunakan sumur diladang untuk menyiram
tanamannya agar tidak mati kekeringan.
Tapi sumur yang berair keruh dengan lokasi yang tidak
strategis, persis berada ditengah rimbun pohon kenari dan kakao. Sehingga saat
dedaunan pohon – pohon itu berguguran maka air keruh dari sumur itu hanya bisa
diambil dengan menyingkirkan daun – daun yang berenang dipermukaannya. Tidak
bisa digunakan untuk menumpang mandi, hanya saja masih bisa digunakan untuk
mengisi tangki semprotan.
Pernah juga sumur diantara rerimbunan pohon kenari itu menjadi perangkap biawak berukuran besar. Beberapa bulan didalam sumur berair keruh itu, entah apa yang biawak itu makan didalam sumur hingga bertahan 2 bulan. Bahkan bulan ketiga biawak kedua terperangkap lagi. Jika dihitung cara matematika sudah ada dua ekor biawak dalam sumur berair keruh.
.jpg)
Para petani yang masih menjalani hari – hari kemarau
berdebu, mengacuhkan saja kedua biawak itu dan mereka tetap menyingkirkan
dedaunan kakao dan kenari pada genangan airnya, menimba, menyiram tanaman –
tanaman. mereka terus berlalu lalang
membiarkan 2 ekor biawak pada satu sumur
yang sama. Dalam benak lama saya beranggapan jika biawak itu telah menemui
jodohnya didalam sumur.
Meskipun tidak bisa saya pastikan bahwa keduanya bisa saja
betina atau jantan semua. tapi saya anggap saja bahwa biawak itu adalah
sepasang karena bisa saja yang satunya betina dan yang satunya jantan.
Ketidaktahuan saya juga tidak dimengerti kebanyakan petani – petani kebun itu.
Yang tahu pasti adalah biawak – biawak itu, karena mereka yang menjalani ”cinta
lokasi”.
Hingga sudah hampir empat bulan sumur berair keruh itu
dihuni biawak. Suatu hari pemilik kebun berinisiatif mengangkat biawak – biawak
itu dari dalam sumur. Karena kedalamannya agak sulit terjangkau dengan dinding
sumur yang berbentuk persegi. Sehingga sang pemilik kebun hanya mampu mengail
satu ekor biawak saja. Hari terus berganti, berlalu seperti biasa para petani
hanya membiarkan saja biawak itu. mereka hanya bermaksud mengambil air menyiram
tanaman – tanaman mereka, dan itu saja yang mereka lakukan. Tidak peduli dengan
biawak.
Biawak yang lebih dulu terperangkap ataukah biawak yang dua
bulan kemudian baru terperangkapkah yang telah dikail, itu tidak bisa
dipastikan. Yang pasti adalah seekor biawak telah bebas dari perangkap sumur
berair keruh. Tinggallah kini seekor lagi menduda dalam kesendirian, gelap,
berdaun coklat dan entah apa yang biawak itu makan hingga sanggup bertahan pada
bulan keempat.
Bulan berlalu, musimpun berganti pancarobah terjadi pada
pertengahan bulan keempat sang biawak terperangkap. Guruh gemuruh guntur dan
semarak kilat sambar menyambar, mendung pertanda hujan. Malam hari hujan turun
dengan lebatnya membuat bumi hidup setelah mati keringnya. Kini para petani
tidak perlu lagi menimba air disumur persegi yang ada diantara rimbun kenari
itu. mereka layak perbanyak syukurnya.
Petani memang tidak lagi menimba air disumur, tetapi biawak
itu masih dalam kejenuhan sumur dengan air yang keruh. Sempat kulihat pada hari
sabtu pagi dan ini merupakan minggu ketiga musim hujan, biawak itu masih
berenang – renang diantara daun – daun coklat. Namun apa yang terjadi pada
akhir pekan ini setelah sore hari hujan tidak pernah berhenti turun dengan
derasnya hingga hari senin.
Air muara meluap, naik hingga satu meter dari permukaan
sumur. Sejak senin para petani kebun libur dan baru bisa berangkat setelah air
turun kepermukaan pada hari kamis. Dipundak belakangku kubawa tangki semprotan
untuk mematikan rumput – rumput yang hampir berbentuk semak belukar itu. menuju
sumur diantara rimbun kenari bermaksud mengisi tangki semprotan dengan airnya
yang keruh dan tidak kulihat lagi biawak itu. sang biawak kini telah menemui
kebebasannya. Kebebasan yang dinanti – nantikannya selama berbulan – bulan
hanya dengan air keruh, daun – daun kenari dan kakao coklat.
.jpg)
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar